Misalnya lokasi yang berada di tengah hutan. Hal ini membuat udara pasar terasa sejuk. Belum lagi semilir angin membuat para pembeli betah berlama-lama di pasar Kumandang.
Tidak hanya itu, pasar yang berlokasi sekitar 15 kilometer dari pusat kota ini seakan memaksa para pembeli kembali ke masa lalu. Bagaimana tidak, jika lumrahnya transaksi di pasar lain menggunakan uang rupiah, para pembeli di Pasar Kumandang justru menggunakan keping dari bathok kelapa yang sudah disediakan.
Foto: Uje Hartono/detikcom |
Nuansa tradisional di Pasar Kumandang semakin kental saat melihat semua penjual kompak mengenakan pakaian lurik, salah satu pakaian adat jawa. Belum lagi di sudut-sudut pasar terdapat beberapa permainan anak tempo dulu.
Untuk transaksinya, di poasar yang hanya buka setiap hari minggu ini sengaja menggunakan bathok kelapa yang sudah dibikin bulat. Satu keping bathok tersebut senilai Rp 2 ribu. kepingan bathok itu digunakan semua transaksi di Pasar Kumandang.
"Pembali bisa menukarkan uangnya dulu. Satu keping bathok senilai Rp 2 ribu ," terangnya.
Foto: Uje Hartono/detikcom |
Selain makanan tradisional, juga terdapat beberapa kerajinan warga setempat. Menurut dia, pasar yang mulai aktif dibuka sejak mei 2018 lalu untuk memandirikan masyarakat di Desa Bojasari.
"Ada beberapa nilai yang kami tanamkan di pasar ini. Misalnya menanam kemandirian serta mengembalikan akar budaya, dalam hal ini budaya Jawa," jelasnya.
Bahkan, meski berada di hutan dengan udara yang sejuk, di Pasar Kumandang dilarang merokok. Menurut dia, hal ini juga untuk menanamkan nilai saling menghargai dengan tidak mengganggu orang lain.
"Adanya larangan merokok ini sebagai bentuk menghormati orang lain yang tidak merokok," kata dia.
(bgs/bgk)
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Pasar Unik Gaya Tempo Dulu di Tengah Hutan Wonosobo"
Post a Comment